Oleh : Adrinal Tanjung
Tak jauh dari kediaman, Adzan Subuh berkumandang lembut, memecah keheningan yang masih pekat. Suaranya merayapi udara, mengetuk kesadaran, dan mengajak hati untuk kembali bersujud penuh syukur. Dalam hening yang khusyuk itu, ayat yang sama kembali berbisik di relung jiwa:
“Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?”
Empat minggu yang luar biasa di Pulau Dewata telah menjadi perjalanan batin yang sarat makna. Meski hadir untuk melaksanakan tugas kedinasan, waktu-waktu di antara rutinitas justru membuka ruang yang luas bagi refleksi, kontemplasi, dan menemukan kembali ritme hidup yang lebih tenang.
Beberapa kali langkah kaki mengarah ke Lapangan Niti Mandala Renon—ruang terbuka yang teduh dan luas. Jalan pagi di tempat ini memberi energi baru dengan pepohonan yang rindang, udara yang lebih segar, serta banyaknya pengunjung memulai hari dengan semangat. Di titik-titik tertentu, saya berhenti sejenak, sekadar menarik napas panjang sambil menatap monumen yang tegak berdiri, simbol keteguhan sejarah Bali.
Pantai Sanur pun menjadi tempat yang berkali-kali saya datangi. Ada magnet ketenangan di sana. Debur ombak yang pelan, garis horizon yang seolah tak berujung, dan langit pagi yang memantulkan cahaya keemasan. Dari tepian pantai, saya pun melanjutkan langkah menuju Masjid Al Ikhsan untuk menunaikan shalat. Perpaduan antara keindahan alam dan kedamaian spiritual yang sulit dilupakan.
Ruang-ruang lain juga menyisakan jejak kenyamanan, seperti kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Badung di Semidi. Lingkungannya tertata rapi, teduh, dan menenangkan. Di sini, saya merasakan betapa harmoni antara tugas pemerintahan, pelayanan publik dan kearifan lokal berjalan berdampingan.
Puncak keseruan tentu saja ketika pelaksanaan rapat kerja di Ubud. Agenda rapat yang padat dibalut suasana Ubud yang mempesona. Setiap pagi, sarapan di hotel terasa nikmat dengan ragam makanan yang lezat, aroma kopi Bali yang khas, dan suasana alam yang merangkul dari kejauhan. Selepas agenda resmi, rafting di Sungai Ayung menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Menjadi momen penuh tawa dan kegembiraan.
Di sela-sela tugas dan perjalanan, saya juga menyempatkan menyusuri jalan-jalan di Kota Denpasar. Berhenti di beberapa kafe kecil, membaca, menulis, dan menikmati kesunyian yang produktif. Ada kenyamanan yang sulit dijelaskan, seolah kehidupan bergerak sedikit lebih pelan, memberi ruang bagi pikiran untuk tertata dan hati untuk lebih jernih.
Selain itu, kunjungan ke beberapa masjid dan mushala di Denpasar semakin memperkaya pengalaman spiritual. Meski mayoritas penduduknya beragama Hindu, kota ini menyediakan banyak ruang ibadah bagi kaum Muslim. Harmoni dalam keberagaman itu terasa nyata, indah, tulus, dan menenteramkan. Sebuah teladan tentang bagaimana perbedaan dapat dirawat tanpa kehilangan kehangatan.
Empat minggu bukan sekadar waktu. Ia adalah rangkaian pengalaman yang terjalin rapi, memberi kedamaian dan kenyamanan, serta membuka pintu-pintu inspirasi yang mungkin tak akan muncul jika tidak berada di Pulau Dewata. Dan setiap langkah saat bersiap bergerak menuju perjalanan pulang ke Jakarta, hati kembali berbisik penuh makna:
“Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?”
Pertanyaan yang sama, namun kini bergema dengan rasa syukur yang lebih dalam. Syukur atas perjalanan, atas ruang hening, atas pengalaman yang meneguhkan, dan atas kesempatan untuk menemukan cahaya yang mungkin selama ini tersembunyi.
Di setiap udara pagi yang segar, di setiap lantunan adzan yang menggema, di setiap ombak yang menyentuh pasir Sanur, Tuhan seakan berbisik bahwa hidup selalu memberi berbagai kesempatan bagi siapa pun yang senantiasa mengambil sisi sisi baik perjalanan hidup.
Pulau ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan sesuatu yang dicari jauh, melainkan sesuatu yang tumbuh ketika jiwa berserah. Bahwa kebahagiaan hadir bukan karena segalanya sempurna, tetapi karena kita memilih untuk mensyukuri apa yang ada. Dan bahwa setiap langkah baik di jalan setapak Renon, di derasnya Sungai Ayung, maupun di kafe-kafe kecil tempat saya menulis adalah bagian dari perjalanan kembali kepada diri sendiri.
Empat minggu menjadi pengingat halus bahwa Tuhan bekerja melalui cara-cara yang sederhana. Tidak selalu dengan kejutan besar, kadang hanya melalui keheningan yang menyelimuti sore, senyum orang yang ditemui di jalan, atau kesempatan untuk memperbaiki diri secara perlahan. Semuanya dirangkai menjadi pelajaran tentang hidup yang lebih penuh makna.
Ketika waktu untuk kembali ke Jakarta semakin dekat, ada satu kesadaran yang hadir dengan sangat jernih bahwa perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang jauh, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih bening. Dan sekali lagi, dalam diam yang syahdu, saya kembali teringat firman Allah yang menenangkan:
“Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?”
Kota Denpasar, 30 November 2025



.jpeg)

.jpeg)
