Refleksi Menyambut Pernikahan Ananda

Kamis, 27 November 2025 Last Updated 2025-11-27T09:03:00Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Waktu berjalan pelan namun pasti, seolah memberi ruang bagi hati untuk benar-benar memahami setiap makna yang hadir. Hari-hari menjelang pernikahan Ananda menjadi jeda yang sunyi namun penuh getar rasa, menghadirkan perenungan mendalam sebagai orang tua yang bersiap menapaki fase baru kehidupan. 

Sejak beberapa hari terakhir, saya mulai mengabari keluarga, rekan kerja, sahabat, dan para tokoh yang pernah mewarnai perjalanan hidup kami, menyampaikan kabar tentang momen suci yang akan segera tiba. Di sela kesibukan itu, saya kembali menyusun daftar nama-nama yang akan dihubungi, seolah setiap nama adalah simpul kenangan, doa, dan harapan yang ingin kami rajut bersama menuju hari bahagia ini.

Undangan demi undangan disampaikan dengan kerendahan hati, sebagai ikhtiar kecil untuk mengetuk pintu doa dan restu bagi Ananda yang kini tinggal menghitung hari menuju gerbang kehidupan baru. Di saat yang sama, takdir menghadirkan babak lain dalam hidup saya melalui penugasan baru di Pulau Dewata, yang belum genap sebulan saya jalani. 

Dua peristiwa besar ini hadir beriringan, seakan mengajarkan bahwa hidup senantiasa berjalan dalam irama yang tidak selalu bisa kita kendalikan, namun selalu menawarkan pelajaran untuk lebih sabar dan lebih ikhlas. 


Perjalanan Ananda menuju hari bahagia ini pun tidak sepenuhnya mulus. Ada dinamika yang harus dilalui, riak-riak kecil yang menguji ketenangan, bahkan perbedaan budaya antara dua keluarga yang tak terhindarkan. Namun justru dari sanalah makna tumbuh perlahan. 

Kami belajar bahwa cinta tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami dan menerima perbedaan. Di setiap liku yang dilewati, tersimpan pelajaran tentang kedewasaan, kelapangan hati, dan keikhlasan.


Kami semakin menyadari bahwa jodoh adalah kuasa Ilahi. Manusia hanya berikhtiar, merancang, dan menata sebaik mungkin, sementara Allah SWT menetapkan waktu dan jalannya. Dalam doa penuh keyakinan, kami memohon agar pernikahan ini menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warrahmah, tempat berlabuhnya cinta, tumbuhnya kesetiaan, dan bersemainya ketenangan jiwa.

Semoga hari istimewa ini berjalan lancar, khidmat, dan tanpa kendala berarti. Semoga pula babak baru yang akan dijalani Ananda kelak menjadi jalan keberkahan, tidak hanya bagi mereka berdua, tetapi juga bagi kami sekeluarga. Kami menyadari satu hal yang sederhana namun mendalam, saat seorang anak melangkah menuju kehidupannya sendiri, orang tua belajar untuk merelakan dengan doa, mengiringi dengan ikhlas, dan mempercayakan segalanya pada kehendak-Nya.

Menutup refleksi ini, kami kembali menguatkan hati dengan sabda Rasulullah SAW tentang kemuliaan ikatan pernikahan: “Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka bertakwalah kepada Allah pada separuh yang tersisa.” (HR. at-Thabrani). 


Hadits ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan sekadar perayaan, melainkan amanah suci yang menuntut tanggung jawab, kesetiaan, dan ketulusan dalam menjaga nilai-nilai keimanan. 

Semoga Ananda dan pendamping hidupnya kelak mampu menapaki jalan rumah tangga dengan penuh kesabaran, cinta yang meneduhkan, serta ketakwaan yang senantiasa tumbuh, hingga rumah yang mereka bangun menjadi taman ketenangan yang diridhai Allah SWT.

Pulau Dewata, 27 November 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Refleksi Menyambut Pernikahan Ananda

Trending Now

Profil

iklan