Oleh: Adrinal Tanjung
Menulis buku bukan sekadar menuangkan ide ke dalam kata-kata. Di balik setiap buku yang terbit, ada proses panjang yang penuh dedikasi—dan tentu saja, biaya yang tidak sedikit. Pengalaman saya menulis dan menerbitkan buku selama hampir dua dekade mengajarkan satu hal penting, tak ada yang gratis dalam proses berkarya.
Dalam proses penulisan, apalagi bersama tim, riset meskipun dalam skala kecil tetap dibutuhkan. Kami membaca berbagai referensi, mencari data pendukung, hingga berdiskusi mengenai sudut pandang dan alur. Tak jarang saya harus menunggu momen yang tepat untuk menulis, mencari suasana yang nyaman—sering kali sambil duduk di kafe, mencoba menangkap inspirasi yang datang dan pergi.
Kebutuhan akan referensi pun menuntut saya untuk membeli buku-buku, mengakses jurnal, atau berlangganan platform tertentu. Semua itu adalah bagian dari investasi untuk menghasilkan tulisan yang layak dibaca.
Saya memilih jalur self-publishing karena memberi kebebasan dalam mengelola konten dan waktu terbit. Namun, konsekuensinya adalah saya harus menanggung seluruh biaya produksi sendiri. Mulai dari menyewa editor untuk menyunting naskah, menggunakan jasa layouter untuk desain buku, hingga mencetak dan mendistribusikan buku ke pasar. Bila ingin menjangkau pembaca lebih luas, promosi—baik digital maupun fisik—juga membutuhkan anggaran tersendiri. Untuk yang terakhir ini, masih belum saya lakukan.
Biaya bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses yang justru akan membuat kita lebih menghargai setiap halaman yang tercipta. Karena sejatinya, karya yang bernilai lahir dari proses yang tidak instan, penuh dedikasi, dan kesungguhan untuk terus melangkah—meski harus membayar harganya.
Pramuka 33, 14 Agustus 2025



