The Power of Silaturrahmi

Senin, 11 Agustus 2025 Last Updated 2025-08-10T22:45:38Z

Oleh Adrinal Tanjung 

Perjalanan saya dalam dunia kepenulisan bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Namun berjalannya waktu  perlahan namun pasti sering menghadirkan kejutan. Berawal dari ketidaksengajaan  lalu menjadi kebiasaan, dan menjelma sebagai panggilan jiwa. Kini, memasuki  dua dekade berkarya, saya menengok ke belakang dan merenungi satu hal yang paling memberi pengaruh besar dalam pencapaian ini yaitu kekuatan silaturrahmi.

Sebagai seorang abdi negara yang mengabdikan diri di salah satu institusi pemerintahan, tentu bukan perkara mudah untuk menyisihkan waktu di tengah padatnya tugas dan tanggung jawab. Namun dengan manajemen waktu yang ketat dan komitmen yang terus dipelihara, saya berhasil menulis ratusan artikel dan menerbitkan tidak kurang dari 50 buku. Sebuah pencapaian yang tidak semata-mata soal jumlah, melainkan tentang makna, konsistensi, dan dedikasi.


Yang sering kali tidak tampak dari luar adalah bagaimana jaringan silaturrahmi telah memainkan peran penting dalam setiap langkah saya. Silaturrahmi bukan hanya tentang menjaga hubungan sosial, melainkan juga membuka jalan menuju ilmu, kolaborasi, dan berbagai peluang yang sebelumnya mungkin tak terbayangkan.

Kemarin, saya kembali merasakan kuatnya daya silaturrahmi tersebut. Seorang sahabat yang saya kenal hampir enam tahun lalu, Yanuardi Syukur, berkunjung ke kediaman saya. Ia adalah akademisi dari Universitas Khairun Ternate, doktor muda lulusan Universitas Indonesia, serta dikenal luas sebagai penulis produktif dan pengamat isu-isu Timur Tengah.

Diskusi kami berlangsung hampir lima jam secara intens dan bermakna. Tidak hanya itu, kami juga terhubung secara daring dengan Tjahyo Suprayogo, penulis sekaligus akademisi dari IPDN, yang bergabung secara virtual karena penugasan mendadak dari pimpinan IPDN ke Jawa Timur. Awalnya, kami merencanakan pertemuan tatap muka di kediaman saya, namun akhirnya terlaksana dalam format hybrid—perpaduan luring dan daring.


Diskusi ini merupakan lanjutan dari pertemuan kami tiga minggu sebelumnya di Kampus IPDN Cilandak, Jakarta. Dari pertemuan ini, lahir sejumlah kesepakatan penting yang akan segera kami realisasikan dalam empat bulan ke depan. Salah satunya adalah proyek penulisan dua buku bersama.

Pertama,   buku bertema Keindonesiaan, yang akan menggali nilai-nilai luhur, dinamika kebangsaan, dan semangat membangun Indonesia dari berbagai perspektif.

Kedua, buku profil Kabinet Merah Putih, yang diharapkan menjadi dokumentasi penting tentang figur-figur kunci yang memimpin Indonesia di era kini.

Kedua buku ini bukan hanya penting dari sisi literasi, tetapi juga akan memberi kontribusi intelektual dan kultural bagi masyarakat luas. Kami segera menyusun rencana pembagian tugas, dengan dukungan tim kecil yang akan membantu secara administratif, agar proyek ini bisa berjalan efektif dan tepat waktu.


Bulan Januari 2026 menjadi tonggak penting yang kami sepakati sebagai momentum peluncuran kedua buku tersebut. Dan bagi saya pribadi, bulan itu akan menjadi lebih istimewa karena saya juga merencanakan peluncuran buku reflektif berjudul “The Power of Silaturrahmi”, sebagai penanda usia 55 tahun sekaligus buku ke-55 yang saya tulis dan terbitkan dalam rentang usia tersebut.

Sebuah capaian yang tentu saja tidak saya raih sendirian. Ada banyak tangan yang membantu, banyak pikiran yang menginspirasi, dan banyak hati yang menguatkan. Semua itu hadir berkat kekuatan silaturrahmi yang terus saya jaga dan pelihara dengan kesungguhan.

Saya semakin percaya bahwa dalam setiap pencapaian besar, selalu ada relasi yang mendukung di belakangnya. Silaturrahmi bukan hanya memperluas jaringan, tetapi juga memperdalam makna hidup, memperkuat motivasi, dan mempercepat langkah menuju tujuan.

Untuk siapa pun yang tengah menapaki jalan literasi atau merintis karya dalam bidang apa pun—jangan pernah menyepelekan kekuatan silaturrahmi. Karena dalam hubungan yang tulus dan niat yang baik, selalu ada energi besar yang bisa mendorong kita melampaui batas-batas yang kita kira tak bisa ditembus.


Tetap semangat dan teruslah berkarya.
Karena sejatinya, hambatan bukanlah penghalang.
Hambatan adalah jalan.
Dan silaturrahmi adalah jembatan yang menuntun kita menyeberanginya.


Bekasi, 10 Agustus 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • The Power of Silaturrahmi

Trending Now

Profil

iklan