Merasa Cukup

Jumat, 21 November 2025 Last Updated 2025-11-21T08:43:55Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Tiba-tiba, di jelang Subuh yang hening, sebuah kalimat sederhana muncul begitu kuat di dalam benak: "Merasa cukup adalah salah satu kunci kebahagiaan hidup." Kalimat itu seolah mengetuk hati yang telah melalui hampir tiga dekade pengabdian sebagai abdi negara, dan dua dekade perjalanan menulis. Sebuah perjalanan panjang yang penuh pelajaran tentang cita-cita, harapan, kegagalan, dan akhirnya, kelegaan.

Dulu, pernah ada masa ketika jabatan tinggi terasa seperti tujuan yang harus dicapai. Ada upaya, ada harapan, ada usaha yang dilakukan. Meskipun tak terlalu berambisi untuk mendapatkannya, namun ikhtiar itu pernah dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ketika hasilnya belum berhasil diraih, sejenak hati sempat goyah. Tetapi justru di titik itulah arah hidup mulai berubah. Pelan-pelan, langkah dialihkan untuk bekerja sebaik-baiknya dan terus berkarya melalui tulisan. Ternyata, lewat tulisanlah kegembiraan dan kebahagiaan itu hadir, lebih tulus, lebih mengalir, lebih dekat dengan diri sendiri. Tanpa jabatan tinggi sekalipun, hidup tetap menyediakan ruang untuk memberi kontribusi.


Pertanyaan tentang apa yang benar-benar memberi kebahagiaan akhirnya menjadi renungan mendalam. John Stuart Mill pernah berkata bahwa ketika ia bertanya pada dirinya sendiri apakah semua pencapaian dan perubahan besar yang ia idamkan akan membuatnya bahagia, hatinya dengan jujur menjawab: "Tidak!" Kesadaran itu membuat seluruh fondasi hidupnya runtuh, sekaligus membuka jalan bagi pemahaman baru tentang arti kebahagiaan.

Lao Tzu bahkan lebih sederhana: "Ketika kau sadar bahwa kau tidak kekurangan apa-apa, seluruh dunia bagaikan milikmu." Betapa kuatnya kalimat itu. Bahwa kebahagiaan bukan berada di luar diri, melainkan di dalam kesadaran bahwa hidup ini sudah cukup, dengan segala pencapaian dan dengan segala suka dukanya.

Sejalan dengan itu, Nabi Muhammad SAW jauh jauh hari mengingatkan tentang sifat dasar manusia yang nyaris tak pernah merasa puas. Beliau bersabda, "Seandainya manusia diberi satu gunung emas, niscaya ia masih menginginkan gunung emas yang kedua." Sebuah perumpamaan yang begitu kuat tentang tabiat manusia yang selalu ingin lagi dan lagi, betapapun banyak yang telah dimiliki. Tidak akan pernah ada kata cukup bagi jiwa yang terus mencari di luar dirinya. Keserakahan halus itulah yang kerap mengikis syukur dan menjauhkan hati dari kedamaian.

Akhirnya pencapaian, ketenaran, uang, dan penghormatan meskipun dimiliki bertumpuk-tumpuk, tidak akan mampu membuat seseorang benar-benar puas. Banyak kasus yang bisa kita ambil pelajaran. Bagaimana ketenaran dan kekayaan malah membawa kesengsaraan.  Ada ruang kosong dalam diri yang tidak bisa diisi oleh prestasi eksternal. Ruang itu hanya bisa diisi oleh rasa cukup dan rasa damai yang berasal dari diri sendiri.


Lalu apa yang sebenarnya kita cari lebih dalam hidup kita? Ternyata bukan jabatan, bukan popularitas, bukan pengakuan. Untuk hal ini tentu saja bisa diperdebatkan. Karena tiap orang punya preferensi masing masing. Namun ketika kita menyadari bahwa hidup ini sudah cukup dengan lebih hadir dalam setiap langkah, lebih jernih melihat keadaan, lebih luas wawasan, lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa. Selain lebih bermanfaat di setiap kehadiran dan juga lebih sering tinggal dalam keheningan. Dalam keheningan itulah kebahagiaan memantulkan wajahnya dengan paling jujur.

Perjalanan hidup bukanlah tentang siapa yang paling tinggi mendaki, tetapi siapa yang paling dalam memahami dirinya sendiri dan paling banyak memberi kemanfaatan. Dengan demikian ketika kita belajar merasa cukup, hidup pun menjadi lebih lapang. Syukur tumbuh, langkah terasa ringan, dan hati menemukan kedamaiannya. Di titik inilah kita sadar bahwa kebahagiaan tidak perlu dikejar terlalu jauh, karena ia selalu kembali kepada mereka yang mampu merasa cukup.

Sebagai penutup, biarlah kesadaran tentang rasa cukup ini menjadi pelita yang menuntun langkah kita setiap hari. Bahwa hidup bukan semata tentang menumpuk apa yang bisa diraih, melainkan tentang merawat apa yang telah dianugerahkan. Ketika hati mampu bersandar pada syukur, ketika jiwa tak lagi sibuk membandingkan, di sanalah kita menemukan kemerdekaan sejati. Merasa cukup bukan tanda berhenti, melainkan titik mula untuk hidup yang lebih bermakna yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Sang Pemilik Hidup.

Denpasar, 21 November 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Merasa Cukup

Trending Now

Profil

iklan