Dua Hari Menjelang Pulang

Selasa, 06 Januari 2026 Last Updated 2026-01-07T04:30:06Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Dua hari menjelang kembali ke Jakarta, saya memilih berjalan lebih pelan. Hening kembali menjadi teman, fokus kembali dirawat. Di sela waktu yang tersisa, saya menuliskan pikiran dan rasa yang hadir tanpa tergesa, tanpa keinginan untuk segera selesai. Menulis menjadi ruang untuk menata ulang apa yang telah dilewati dan apa yang sedang dipersiapkan.

Menjelang pulang, saya berupaya merapikan pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas. Menyelesaikan amanah dengan sebaik-baiknya menjadi bentuk tanggung jawab sekaligus penutup yang layak atas fase penugasan selama tahun 2025. 

Di malam hari, saya menikmati hening yang lebih dalam, hening yang menenangkan pikiran, menghadirkan kedamaian hati, dan perlahan menumbuhkan kebijaksanaan. Keheningan untuk meraih kebijaksanaan.


Penugasan ke Pulau Dewata saya terima sebagai bagian dari takdir yang penuh kejutan. Datang di luar rencana, namun perlahan menghadirkan makna. Penugasan ini membawa berkah yang tak terkira. Saya diberi kesempatan untuk menikmati keindahan Bali dengan segala pesonanya. Kesempatan yang tidak banyak orang miliki. Kesadaran inilah yang menumbuhkan rasa syukur yang dalam, bahwa hidup sedang memperlakukan saya dengan baik.

Pulau Dewata menghadirkan pesonanya dengan cara yang tenang dan bersahaja. Laut yang membentang luas, senja yang jatuh perlahan, jalan-jalan yang mengajak untuk melambat, serta harmoni antara alam, budaya, dan spiritualitas yang terasa menyatu. Bali tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan batin.

 Ia seolah mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus dikejar, melainkan cukup dijalani dengan kesadaran penuh dan setia pada setiap proses.


Di sini, bekerja tetap menjadi amanah utama, sementara keheningan memberi ruang untuk merenung. Saya belajar bahwa dalam keheningan itulah kebijaksanaan sering hadir, membimbing cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Pulau ini mengajarkan keseimbangan, tentang kesungguhan dalam tugas dan keikhlasan dalam menerima setiap proses yang menyertainya. Tentang bekerja dengan sepenuh hati, sekaligus memberi ruang bagi diri untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara batin.


Di setiap jeda, saya belajar bahwa hidup tidak selalu tentang bergerak cepat, melainkan tentang memahami arah. Bahwa pertemuan, penugasan, dan perpisahan selalu membawa pelajaran baru jika disambut dengan hati yang terbuka.

Menjelang pulang, saya semakin memahami bahwa hening adalah kunci terpenting dalam perjalanan ini. Dari hening lahir kejernihan, dari kejernihan tumbuh kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan menguatkan syukur serta keyakinan. Hening menuntun langkah agar tetap utuh, rendah hati, dan sadar bahwa setiap kejutan hidup sejatinya adalah kesempatan untuk mensyukuri berkah dan menjadi manusia yang lebih bijak.

Kota Denpasar, 5 Januari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dua Hari Menjelang Pulang

Trending Now

Profil

iklan