Senja, Hening, dan Penutup Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 Last Updated 2026-01-01T12:03:59Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Menutup tahun 2025, saya memilih diam sejenak di Pantai Sanur. Senja perlahan merunduk, membiarkan langit beralih warna dengan tenang. Dari biru yang lelah menuju jingga yang hangat. Ombak datang dan pergi tanpa suara yang berlebihan, seolah mengajarkan bahwa hidup tidak selalu perlu dirayakan dengan gegap gempita. Ada kalanya, ia cukup disyukuri dalam hening.

Tahun 2025 adalah tahun yang penuh kejutan. Beberapa di antaranya hadir tanpa aba-aba, bahkan di luar rencana dan perkiraan. Perpindahan tugas ke Pulau Dewata menjadi salah satu momen paling mengejutkan. Sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan, namun harus dijalani dengan lapang dada. Dari situlah saya belajar, takdir sering kali tidak meminta persetujuan, ia hanya meminta kesiapan untuk diterima.


Pulau Dewata kemudian menjelma bukan sekadar tempat bertugas, tetapi ruang pembelajaran. Di sini, rasa syukur dilatih setiap hari. bahkan saat langkah terasa berat. Dalam sunyi pagi dan senja yang tenang, saya memahami bahwa pengabdian bukan hanya soal kerja yang diselesaikan, melainkan juga tentang bagaimana hati tetap dijaga agar tidak kehilangan makna.

Senja di Sanur menjadi saksi upaya berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan capaian yang belum sepenuhnya terwujud, dengan lelah yang kadang datang tanpa diminta, dan dengan harapan yang masih menunggu waktu. Tahun ini mengajarkan bahwa melepaskan bukan berarti menyerah, dan menerima bukan tanda kalah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menjalani hidup.


Di penghujung tahun, dua tembang Tulus menemani keheningan. “Diri” mengajak menoleh ke dalam, mengenali luka, menerima keterbatasan, dan memeluk diri sendiri dengan jujur. Bahwa menjadi utuh bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk berdamai dengan apa adanya. Sementara “Satu Kali” mengingatkan dengan lembut namun tegas, hidup hanya sekali. Maka setiap langkah layak dijalani dengan kesadaran, setiap perjumpaan patut dimaknai, dan setiap waktu selayaknya disyukuri.

Ketika matahari benar-benar tenggelam, saya menyadari satu hal penting. Akhir yang tenang adalah bekal terbaik untuk memulai perjalanan baru. Tahun boleh berganti, peran boleh berubah, namun niat untuk hidup dengan jujur, bekerja dengan ikhlas, dan terus menulis sebagai bentuk syukur tidak boleh padam.

Menutup tahun 2025, saya tidak membawa daftar panjang resolusi. Yang ada hanyalah niat sederhana, menjalani hidup dengan lebih sabar, memperbanyak syukur, dan berusaha melakukan yang terbaik. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa utuh kita hadir di setiap langkah yang dijalani. Tahun pun ditutup dengan senja yang tenang. Dan dari hening itulah, harapan baru perlahan disemai.


Di hadapan senja yang perlahan menghilang dan tahun yang segera berganti, saya titipkan doa dan harapan untuk hari-hari yang akan datang. Semoga di tahun mendatang Allah SWT menganugerahkan kesehatan yang terjaga, rezeki yang penuh berkah, serta keberkahan dalam setiap langkah pengabdian.

Semoga kehadiran diri senantiasa membawa manfaat.  Hati  yang semakin didekatkan kepada-Nya, iman dan ketakwaan kian menguat, sehingga setiap peran yang dijalani menjadi jalan ibadah, setiap karya bernilai kebaikan, dan setiap perjalanan berujung pada ridha Allah SWT.

Pantai Sanur, 31 Desember 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senja, Hening, dan Penutup Tahun

Trending Now

Profil

iklan